Jumat, 12 Oktober 2012

KABUPATEN WAJO SULAWESI SELATAN

Jadikanlah Dirimu Manusia yang berakhlak Mulia dan mau berbagi dengan sesama

Profil Kabupaten Wajo



Profil Kab. Wajo Sulawesi Selatan

Kondisi Geografis


Kabupaten wajo dengan ibu kotanya Sengkang, terletak dibagian tengah propinsi Sulawesi Selatan dengan jarak 242 km dari ibukota provinsi, memanjang pada arah laut Tenggara dan terakhir merupakan selat, dengan posisi geografis antara 3º 39º - 4º 16º LS dan 119º 53º-120º 27 BT.


Batas wilayah Kabupaten Wajo sebagai berikut :


Sebelah Utara : Kabupaten Luwu dan Kabupaten Sidrap

Sebelah Selatan : Kabupaten Bone dan Soppeng,

Sebelah Timur : Teluk Bone

Sebelah Barat : Kabupaten Soppeng dan Sidrap


Luas wilayahnya adalah 2.506,19 Km² atau 4,01% dari luas Propinsi Sulawesi Selatan dengan rincian Penggunaan lahan terdiri dari lahan sawah 86.297 Ha (34,43%) dan lahan kering 164.322 Ha (65,57%).


Pada tahun 2007 Kabupaten Wajo telah terbagi menjadi 14 wilayah Kecamatan, selanjutnya dari keempat-belas wilayah Kecamatan di dalamnya terbentuk wilayah-wilayah yang lebih kecil, yaitu secara keseluruhan terbentuk 44 wilayah yang berstatus Kelurahan dan 132 wilayah yang berstatus Desa.


Masing-masing wilayah kecamatan tersebut mempunyai potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berbeda meskipun perbedaan itu relatif kecil, sehingga pemanfaatan sumber-sumber yang ada relatif sama untuk menunjang pertumbuhan pembangunan di wilayahnya.


Topografi dan Kelerengan


Topografi di Kabupaten Wajo mempunyai kemiringan lahan cukup bervariasi mulai dari datar, bergelombang hingga berbukit. Sebagian besar wilayahnya tergolong datar dengan kemiringan lahan/lereng 0 – 2 % luasnya mencapai 212,341 Ha atau sekitar 84 %, sedangkan lahan datar hingga bergelombang dengan kemiringan / lereng 3 – 15 % luas 21,116 Ha (8,43%), lahan yang berbukit dengan kemiringan / lereng diatas 16 – 40 % luas 13,752 Ha (5,50 %) dan kemiringan lahan diatas 40 % (bergunung) hanya memiliki luas 3,316 Ha (1,32%).


Secara morfologi, Kabupaten Wajo mempunyai ketinggian lahan di atas permukaan laut (dpl) dengan perincian sebagai berikut :


1. 0 – 7 meter, luas 57,263 Ha atau sekitar 22,85 %

2. 8 – 25 meter, luas 94,539 Ha atau sekitar 37,72 %

3. 26 – 100 meter, luas 87,419 Ha atau sekitar 34,90 %

4. 101 – 500 meter, luas 11,231 Ha atau sekitar 4,50 % dan ketinggian di atas 500 meter luasnya hanya 167 Ha atau sekitar 0,66 %.


Kondisi Alam


Tata Guna Lahan


Tata Guna Lahan di Kabupaten Wajo secara umum terdiri atas sawah, perkebunan, perumahan, tambak, fasilitas sosial, fasilitas ekonomi dan lahan kosong. Pergeseran pemanfaatan lahan di wilayah Kabupaten Wajo secara umum belum mengalami perubahan yang cukup drastis hanya beberapa bagian kawasan strategis di wilayah perkotaan cepat tumbuh akibat terjadinya peningkatan pembangunan jumlah unit perumahan dan pengadaan sarana prasarana umum.


Lahan Kering dan Daerah Pesisir


Daerah Pesisir Pantai


Kabupaten Wajo terdapat 6 (enam) kecamatan yang merupakan wilayah pesisir pantai yaitu :

1. Kecamatan Pitumpanua

2. Kecamatan Keera

3. Kecamatan Takkalalla

4. Kecamatan Sajoanging

5. Kecamatan Penrang

6. Kecamatan Bola


Jumlah desa yang masuk dalam 6 kecamatan tersebut adalah 25 Desa yang langsung berada di pantai pesisir dan perbatasan dengan laut, sedangkan 42 Desa yang berada di daratan.


Sejarah


Kebesaran tanah Wajo pada masa dahulu, termasuk kemajuannya di bidang pemerintahan, kepemimpinan, demokrasi dan jaminan terhadap hak-hak raknyatnya. Adapun konsep pemerintahan adalah :


1. Kerajaan

2. Republik

3. Federasi, yang belum ada duanya pada masa itu


Hal tersebut semuanya ditemukan dalam LONTARAK SUKKUNA WAJO. Sebagaimana yang diungkapkan bahwa beberapa nama pada masa Kerajaan Wajo yang berjasa dalam mengantar Tana Wajo menuju kepada kebesaran dan kejayaan antara lain :


1. LATADAMPARE PUANGRIMAGGALATUNG

2. PETTA LATIRINGENG TO TABA ARUNG SIMETTENGPOLA

3. LAMUNGKACE TOADDAMANG

4. LATENRILAI TOSENGNGENG

5. LASANGKURU PATAU

6. LASALEWANGENG TO TENRI RUA

7. LAMADDUKKELLENG DAENG SIMPUANG, ARUNG SINGKANG (Pahlawan Nasional)

8. LAFARIWUSI TOMADDUALENG


Dan masih banyak lagi nama-nama yang berjasa di Tanah Wajo yang menjadi peletak dasar kebesaran dan kejayaan Wajo.


Beberapa versi tentang kelahiran Wajo, yakni :


1. Versi Puang Rilampulungeng

2. Versi Puang Ritimpengen

3. Versi Cinnongtabi

4. Versi Boli

5. Versi Kerajaan Cina

6. Versi masa Kebataraan

7. Versi masa ke Arung Matoa-an



Dari versi tersebut, disepakati yang menjadi tahun dari pada Hari Jadi Wajo ialah versi Boli, yakni pada waktu pelantikan Batara Wajo pertama LATENRI BALI Tahun 1399, dibawah pohon besar (pohon Bajo). Tempat pelantikan sampai sekarang masih bernama Wajo-Wajo, di daerah Tosora Kecamatan Majauleng.


Terungkap bahwa, pada mulanya LATENRI BALI bersama saudaranya bernama LATENRI TIPPE secara berdua diangkat sebagai Arung Cinnongtabi, menggantikan ayahnya yang bernama LAPATIROI. Akan tetapi dalam pemerintahannya, LATENRI TIPPE sering berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya yang diistilahkan ”NAREMPEKENGNGI BICARA TAUWE”, maka LATENRI BALI mengasingkan dirinya ke Penrang (sebelah Timur Tosora) dan menjadi Arung Penrang. Akan tetapi tak lama kemudian dia dijemput rakyatnya dan diangkat menjadi Arung Mata Esso di Kerajaan Boli. Pada upacara pelantikan dibawah pohon Bajo, terjadi perjanjian antara LATENRI BALI dengan rakyatnya dan diakhiri dengan kalimat ”BATARAEMANI TU MENE’ NA JANCITTA, TANAE MANI RIAWANA” (Hanya Batara Langit di atasnya perjanjian kita, dan bumi di bawahnya) NARITELLANA PETTA LATENRI BALI PETTA BATARA WAJO.


Berdasarkan perjanjian tersebut, maka dirubahlah istilah Arung Mata Esso menjadi Batara, dan kerajaan baru didirikannya, yang cikal bakalnya dari Kerajaan Boli, menjadi Kerajaan Wajo, dan LATENRI BALI menjadi Batara Wajo yang pertama.


Sedangkan untuk menentukan tanggal Hari Jadi Wajo, dikemukakan beberapa versi, yakni :


1. Versi tanggal 18 Maret, ketika armada Lamaddukkelleng dapat mengalahkan armada Belanda di perairan Pulau Barrang dan Koddingareng.

2. Versi tanggal 29 Maret, ketika dalam peperangan terakhir, Lamaddukkelleng di Lagosi, dapat memukul mundur pasukan gabungan Belanda dan sekutu-sekutunya.

3. Versi tanggal 16 Mei, ketika Lasangkuru Patau bergelar Sultan Abdul Rahman Arung Matoa Wajo, memeluk agama Islam.

4. Versi ketika Andi Ninnong Ranreng Tuwa Wajo, menyatakan di depan Dr. SAM RATULANGI dan LANTO DG. PASEWANG di Sengkang pada Tahun 1945 bahwa rakyat Wajo berdiri di belakang Negara Kesatuan Indonesia.


Dari versi tersebut, disepakati yang menjadi tanggal daripada Hari Jadi Wajo, ialah versi tanggal 29 Maret, karena sepanjang sejarah belum pernah ada pejuang yang mampu mengalahkan Belanda pada pertempuran terakhir. Peristiwa ini terjadi pada Tahun 1741.


Dengan perpaduan dua versi tersebut di atas, maka disepakati: Hari Jadi Wajo ialah Tanggal 29 Maret 1399.


Kebesaran dan kejayaan Kerajaan Wajo pada masanya, disebabkan oleh berbagai aspek sebagaimana telah dikemukakan tedahulu, namun ada hal yang sangat hakiki yang perlu mendapatkan perhatian, yakni adanya kepatuhan dan ketaatan Raja dan rakyatnya terhadapat Pangadereng, Ade yang diwarisi dan disepakati, Ade Assiamengeng, Ade Amaradekangeng, sistem Ade dengan sitilah ADE MAGGILING JANCARA, serta berbagai falsafah hidup, pappaseng dan sebagainya.


Kepatuhan dan ketaatan rakyat Wajo terhadap rajanya, sebaliknya perhatian dan pengayoman raja terhadap rakyatnya adalah satu aspek terwujudnya ketentraman dan kedamaian dalam menjalankan pemerintahan pada masa itu. Hal ini dapat kita lihat, pada saat LA TIRINGENG TO TABA dalam kedudukannya sebagai Arung Simettengpola mengadakan perjanjian dengan rakyatnya. Perjanjian ini dikenal dengan ”LAMUNGPATUE RILAPADDEPA” (Penanaman batu = Perjanjian Pemerintahan di Lapaddeppa’).


Inti dari perjanjian ini ialah bahwa rakyat akan patuh terhadap perintah raja, asalkan atas kebaikan dan kemaslahatan rakyat, demikian pula raja akan senantiasa mengayomi rakyatnya dengan dasar Ade, Pengadereng (hukum), dengan pengakuannya :


”IO TO WAJO, MAUTOSA MUPAMESSA’, MUA RIATIMMU, MUPAKEDOI RILILAMU MAELO’E PASSUKKA’ RIAKKARUNGEKKU RI BETTENGPOLA, MAPERING TOKKO NA BACU BACUE, ONCOPISA REKKO MUELOREKKA’MAJA’ MATTI PAJJEO TO WAJO”


Artinya :


Ya orang-orang Wajo, sekalipun menimbulkan dalam hatimu atau menggerakkan dalam lidahmu, hendak mengeluarkan aku dari jabatan kerajaanku di Bettengpola, engkau akan tersapu bersih dari pada tersapunya batu-batu. Apalagi jika kalian bermaksud jahat terhadapku, maka engkau kering bagaikan garam.


Pada bagian lain Petta Latiringeng To Taba Arung Sao Tanre, Arung Simettengpola mengemukakan ”NAPULEBBIRENGNGI TO WAJJOE MARADEKA NAKKEADE’, NAMAFACCING RI GAU SALAE, NAMATINULU MAPPALAONG, NASABA RESOFA TEMMANGINGNGI MALOMO NALETEI PAMMASE DEWATA, NAMAFAREKKI WARANG PARANG, NASABA WARANG PARANGMITU WEDDING MAPPATUWO, WARANG PARANG MITU WEDDING MAPPAMATE”.


Artinya :


Yang menjadikan orang Wajo mulia ialah Kemerdekaan yang menjunjung tinggi hukum dan hak azasi manusia, ia rajin bekerja, karena hanya dengan kerja keras sebagai titian untuk mendapatkan limpahan Rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Hemat terhadap harta benda, karena harta benda orang bisa hidup sempurna dan harta benda pula bisa mematikan orang.


Apa yang telah diletakkan oleh Batara Wajo Pertama ini, oleh Batara Wajo dan Arung Matowa berikutnya terus dikembangkan sampai masa pemerintahan ARUNG MATOWA WAJO KEEMPAT: LATADAMPARE PUANG RIMAGGALATUNG, Wajo mencapai kejayaan. Pada masa pemerintahan inilah selama sepuluh tahun disempurnakan segala peraturan hukum adat, pemerintahan dan peradilan, dan mengajarkan etika pemerintahan, merealisasikan demokrasi dan hak-hak azasi manusia, konsep negara sebagai abdi rakyat (public servent) dan konsep Rule of Law (hukum yang dipertuan bukan raja).


Salah satu Ade Amaradekangengna yang dimuat secara terpencar dalam Lontarak Sukkuna Wajo, yang selanjutnya menjadi motto pada Lambang Daerah Kaubpaten Wajo (walaupun disingkatkan), antara lain berbunyai :


”MARADEKA TOWAJOE NAJAJIAN ALENA MARADEKA, TANAEMMI ATA, NAIYYA TOMAKKETANAE MARADEKA MANENG, ADE ASSAMA TURUSENNAMI NAPOPUANG”.


Artinya :


Orang-orang Wajo, adalah orang merdeka, mereka merdeka sejak dilahirkan, hanya negeri mereka yang abdi, sedangkan si pemilik negeri (rakyat) merdeka semua dan hanya hukum adat yang disetuji bersama yang mereka pertuan.


Kebesaran dan kemuliaan Tana Wajo disebutkan dalam Lontarak :


MAKKEDATOI ARUNG SAOTANRE PETTA TO TABA’ LA TIRINGENG : ”NAIA PARAJAIENGNGI WAJO’, BICARA MALEMPU’E NAMAGETTENG RI ADE’ MAPPURAONRONA, NAMASSE’ RI ADE’ AMMARADEKANGENNA IA TONA PASIAMASENGNGE TAUE RI LALEMPANUA, PASIO’DANINGNGE TAU TEMMASSEAJINGNGENG, NASSEKITOI ASSEAJINGENNA TANAE. NAPOALIE’-BIRETTOI TO WAJO’E MARADEKAE, NAIATOSI NAPOASALAMAKENGNGE TO WAJO’E MAPACCINNA ATINNA NAMALEMPU’, NAMATIKE’, NAMATUTU, NAMETAU’ RI DEWATA SEAUAE, NAMASIRI’ RIPADANNA TAU. LATONARO KUAE PACCOLLI’I PA’DAUNGNGI WAJO’, PATTAKKEI, PAPPALEPANGNGI, PAPPARANGA-RANGAI, NALORONG LAO ORAI’, LAO ALAU’, LAO MANINAG, LAO MANORANG, MATERENG RAUNNA MACEKKE’ RIANNAUNGI RI TO WAJO’E”.


Artinya :


Berkata pula Arung Saotanre Tuan Kita To Taba’ La Tiringeng: ”Yang membesarkan Wajo, ialah peradilan yang jujur, getang pada adat tetapnya dan teguh pada adat kebesarannya. Itu pula yang menyebabkan orang-orang saling mengasihi di dalam negeri, saling merindui orang-orang yang tidak bersanak dan mengukuhkan persahabatan negeri. Menjadikan pula orang-orang Wajo mulia karena kebebasannya. Yang menyelamatkan orang-orang Wajo, ialah ketulusan hatinya dan kejujurannya lagi waspada, berhati-hati, takut kepada Dewata Yang Esa dan menghargai harkat sesamanya manusia. Yang demikian itulah yang memutikkan dan mendaunkan Wajo, menangkaikan dan memelepahkan serta melebarkannya, menjalar ke barat, timur, selatan dan ke utara, rimbun dan dingin daunnya dinaungi oleh orang-orang Wajo”.


Nilai-nilai luhur yang antara lain dikemukakan di atas, maupun dalam Lontarak Sukkuna Wajo adalah kearifan yang menjadi jati diri rakyat Wajo, yang seharusnya kita kembangkan dan lestarikan.


Sumber :


1. Wajo Abad XV-XVI, Suatu Penggalian Sejarah terpendam Sulawesi Selatan dari Lontara;

Prof. Mr. Dr. Andi Zainal Abidin, 1985

2. Munculnya Kerajaan Elektif Wajo, Suatu Percobaan untuk Menemukan Hari Jadi Daerah Wajo;

Prof. Mr. Dr. Andi Zainal Abidin, 1985

3. Sejarah Singkat Hari Jadi Wajo;

Drs. Hamid M. ; Andi Pabbarangi ; Dammar Jabbar, Maret 2000

4. Panitia Hari jadi Wajo (HJW). ke-610 Tahun 2009



Arti Lambang


1. POHON BAJO

1. Bertangkai/cabang tiga ialah bentuk asal daerah Kabupaten Wajo yang terdiri dari tiga Limpo, yaitu :

1. Majauleng (Benteng Pola)

2. Sabbangparu (Talotenreng)

3. Takkalalla (Tua)

2. Batang lurus ialah bercita-cita tinggi penuh kejujuran

3. Daun sebanyak 30 lembar dan hijau melambangkan dewan rakyat wajo (ketika terciptanya republic wajo pada abad XIV) sedang warna hijau cita-cita kemakmuran negeri.

4. Pada akar pohon tertulis aksara bugis menyatakan asal perkataan wajo.

2. PITA

Pada pita terbentang terdapat salah satu dari pandangan masyarakat /rakyat wajo “MARADEKA TOWAJOE ADENA NAPOPUANG” yang artinya Rakyat Wajo merdeka, konsitusinya yang dipertuan dengan warna hijau di artikan makmur subur.

3. PADI, JAGUNG, IKAN GULA

Kesemuanya melambangkan kemakmuran yang Pokok Daerah Wajo

4. LETER W.

Letter w yang terbentuk ornament (hiasan) melambangkan seni ukir (kesenian yang berkembang di kabupaten wajo)

5. WARNA KUNING DAN MERAH

* merah berarti berani karena benar

* kuning berarti indah dan mulia

* kedua warna tersebut warna simbolis bagi jiwa masyarakat wajo

6. WARNA DASAR

Bidang lambang berwarna putih yang diapit merah mencerminkan kepribadian masyarakat / rakyat wajo yaitu keberanian yang disandarkan pada kesucian

7. BENTUK LAMBANG

Bentuk perisai/tameng artinya kesiapsiagaan menghadapi setiap kemungkinan yang mengancam Masyarakat Wajo.


Filosofi, Etika dan Etos Kerja


1. FILOSOFI

Filosofi pemerintahan dan kemasyarakatan wajo yang tercermin pada kedalaman kearifan budaya dan moral masyarakat wajo yang sejak 600 tahun yang lalu yaitu seajack wajo lahir pada tanggal 29 maret 1399, kemudian mengkristal pada tiga kata yang selanjutnya disebut dengan filosofi 3 S ,yaitu sipakatau ,sipakalebbi,sepakainge. Filosofi ini menjadi satu tatanan yang terpisahkan satu samalain.


SIPAKATAU (saling memanusiakan)

1. Menghormati harkat dan martabat kemanusian seseorang sebagai makhluk ciptaan tuhan YME

2. Semua makhluk disisi tuhan YME adalah sama, yang membedakan adalah keimanan dan ketakwaan


SIPAKELEBBI (saling memuliakan /menghargai)

1. Menghargai posisi dan fungsi masing-masing di dalam struktur kemasyarakatan dan pemerintahan

2. Yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menyayangi yang mudah,yang sederajat saling menghormati dan menyayangi.

3. Berprilaku dan berbicara sesuai norma (baik) yang di junjung tinggi oleh masyarakat dan pemerintah.


SIPAKAINGE (saling mengingatkan / demokrasi)

1. Menghargai nasehat, saran, kritikan, posisi, dari siapapun

2. Pengakuan bahwa manusia adalah tempatnya kekurangan dan kekhilafan.

3. Aparatur pemerintah dan masyarakat tidak lupuk dari kekurangan, kekhilafan dan diperlukan ke arifan untuk saling mengingatkan dan menyadarkan melalui maknisme yang tidak lepas dari kearifan Sipakatau dan Sipakalebbi.

2. ETIKA

Pada transisi pelaksanaan otonomi daerah yang penuh tantangan dan eufhoria kebebasan, perlu dibangun suatu persepsi, pandangan yang sama antara pemerintah dan masyarakat wajo dalam wujud adanya etika pemerintah dan masyarakat. etika pemerintahan dan kemasyarakatan tersebut tercermin pada 6 prinsip kerja yaitu :

1. Taat Azaz

Semua langkah dan kebijakan pemerintah dan masyarakat hendaknya lebih awal mengacu pada landasan hukum ( peraturan perundang undangan dan keputusan masyarakat ).

2. Keterbukaan

Setiap langkah dan kebijakan disampaikan secara terbuka (manajemen terbuka) kepada masyarakat untuk mencegah agar tidak terjadi kecurigaan dan fitnah selaras dengan abad 21 ditandai dengan era globalisasi keterbukaan yang penuh dengan persaingan.

3. Kemitraan

Hasil maksimal hanya dapat dicapai melalui kemitraan dan kebersamaan.

Membina kebersamaan dan kemitraan antar aparatur kelembagaan secara vertical dan horizontal.

Membina kemitraan / keterbukaan antar dan inter lembaga pemerintah dan kemasyarakatan.

4. Pelayanan

Tugas utama aparatur pemerintah adalah memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, bukan sebaliknya.

Mempermudah birokrasi pelayanan, bukan malah mempersulit karna ada sesuatu yang diharapkan .

5. Rasa malu (siri’)

Merasa malu kalau tidak melaksanakan tugas dengan baik.

Malu pada diri sendiri , pada masyarakat dan pada Tuhan YME apabila tidak melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab.

6. Iman dan takwa

Berpegang teguh pada ajaran agama karna ajaran agama menunjukkan jalan yang benar kepada kita semua.

3. ETOS KERJA

* Adalah suatu sikap kehendak (dihendaki ) secara suka rela tanpa dipaksa untuk suatu kegiatan (sasaran/program/tujuan),

* Menyangkut sifat, karakter, kualitas hidup, moral dan suasana hati seseorang atau masyarakat,

* Motifasi kerja menyangkut aspek pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan,

* Semboyan yassiwajori disimbolkan sebagai etos kerja pemerintah dan masyarakat wajo

Kewajiban (nasseriki’) :

* tidak ada seorang manusiapun yang lupuk dari suatu kewajiban menurut status dan fungsinya

* kewajiban tersebut akan dipertanggung jawabkan baik, di dunia maupun diakhirat sesuai norma hokum (adat) yang berlaku

Bekerja (resopa) :

* tidak ada seorang manusiapun yang lupuk dari bekerja untuk kepentingan diri sendiri, masyarakat dan Negara.tidak bekerja berarti malas (makuttu)

Optimal (temmangingi) :

* puncak dedikasi kerja yang diharapkan adalah optimal artinya sungguh-sungguh tidak setengah tengah hati dan penuh rasa tanggung jawab (resopa temmangingi naletei pammase dewatae).


Visi Misi


VISI KABUPATEN WAJO


MENJADIKAN KABUPATEN WAJO SEBAGAI KABUPATEN TERBAIK DALAM PELAYANAN HAK DASAR DAN PEMERINTAH YANG PROFESIONAL.


MISI KABUPATEN WAJO


UNTUK MEWUJUDKAN VISI TERSEBUT, ADA EMPAT MISI YANG AKAN DILAKUKAN :


1. PENGUATAN KELEMBAGAAN DAN PENINGKATAN SUMBER DAYA APARATUR.

2. MENINGKATKAN JANGKAUAN DAN KUALITAS PELAYANAN DALAM PROSES PEMENUHAN HAK DASAR MASYARAKAT.

3. MENCIPTAKAN IKLIM YANG KONDUSIF BAGI KEHIDUPAN YANG AMAN, DAMAI, RELIGIUS DAN INOVATIF SERTA IMPLEMENTASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT.

4. MENGAKSELERASI LAJU MESIN-MESIN PERTUMBUHAN DALAM PROSES PRODUKSI BERBASIS EKONOMI KERAKYATAN.


Potensi


1. Sektor Pertanian

Berbagai komoditi sektor pertanian tanaman pangan dan holtikultura sebagai potensi yang berprospek untuk dikembangkan dalam rangka penanaman modal asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) untuk tujuan ekspor dan pemenuhan komoditas dalam negeri. Pemanfaatan lahan pertanian (sawah, tegalan dan kebun) secara optimal untuk tanaman padi, jagung, dan buah-buahan diharapkan dapat meningkatkan produksi dan pendapatan disektor ini. Untuk mengembangkan komoditas tersebut para investor memiliki peluang kerjasama dengan petani baik dalam penyediaan saprodi, budidaya, maupun pemasarannya.


Sektor pertanian yang tergolong besar, dibagi menjadi lima sub sektor :

1. Tanaman Bahan Makanan (Tabama) meliputi tanaman padi dan palawija.

2. Perkebunan meliputi seluruh jenis tanaman perkebunan.

3. Peternakan yang meliputi seluruh jenis peternakan.

4. Kehutanan yang meliputi seluruh jenis kegiatan kehutanan.

5. Perikanan yang meliputi seluruh jenis kegiatan perikanan.


Diantara kelima sub sektor, sub sektor Tabama memiliki kontribusi terbesar terhadap pembentukan PDRB secara keseluruhan di Kabupaten Wajo. Pada tahun 2007, dari 41,57 persen nilai tambah bruto yang berasal dari Sektor Pertanian, terdiri dari 28,04 persen dari sub sektor Tabama; 2,37 persen dari sub sektor perkebunan; 2,15 persen dari sub sektor peternakan; 0,03 persen dari sub kehutanan; dan 8,98 persen dari sub sektor perikanan. Keadaan seperti itu relatif hampir sama setiap tahun pada tahun-tahun sebelumnya.


2. Sektor Perikanan


Potensi sub sektor perikanan terdiri dari berbagai jenis produk penangkapan ikan laut dan perikanan darat yang tersebar di Empat belas kecamatan di Kabupaten Wajo. Produksi dari perikanan darat dihasilkan dari beberapa tempat usaha, seperti danau (1.760 Hektar), rawa (740 Hektar), tambak (1.795 Hektar), kolam (201 Hektar) serta sawah (72 Hektar).


Objek Wisata


A. Danau Tempe


Danau Tempe adalah salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan yangbanyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Danauyang luasnya 13.000 hektar ini, jika dilihat dari ketinggiantampak bagaikan sebuah baskom raksasa. Danau ini menjadi sumberpenghidupan, mencari ikan, tidak hanya bagi masyarakat KabupatenWajo, tapi juga sebagian masyarakat Kabupaten Soppeng dan Sidrap. Disepanjang tepi danau, tampak perkampungan nelayan bernuansa Bugisberjejer menghadap ke arah danau.

Keistimewaan


Danau Tempe merupakan penghasil ikan air tawar terbesar di dunia, karena dasar danau ini menyimpan banyak sumber makanan ikan. Selain itu, danau ini juga memiliki spesies ikan tawar yang tidak dapatditemui di tempat lain. Hal ini diperkirakan karena letak danauini berada tepat di atas lempengan Benua Australia dan Asia.


Ditengah-tengah Danau Tempe, tampak ratusan rumah terapung milik nelayanyang berjejer dengan dihiasi bendera yang berwarna-warni. Dariatas rumah terapung itu, wisatawan dapat menyaksikan terbit danterbenamnya matahari di satu posisi yang sama, serta menyaksikanberagam satwa burung, bunga-bungaan, dan rumput air yang terapung diatas permukaan air. Di malam hari, para pengunjung dapatmenyaksikan indahnya rembulan yang menerangi Danau Tempe sambilmemancing ikan.


Disetiap tanggal 23 Agustus diadakan festival laut atau juga seringdisebut Maccera Tappareng (mensucikan danau) yang ditandai denganpemotongan sapi yang dipimpin oleh ketua nelayan setempat. Dalam acaraini, para pengunjung dapat menyaksikan berbagai atraksi wisata yangsangat menarik, seperti lomba perahu tradisional, perahu hias,permainan rakyat (misalnya, lomba layangan), pemilihan ana? dara(gadis) dan kallolona (pemuda) Tanah Wajo, padendang (menabuh lesung),pagelaran musik tradisional dan tari bissu yang dimainkan olehpara waria, dan berbagai pagelaran tradisional lainnya.Pelaksanaan festival ini dimaksudkan agar nuansa kekeluargaan danpersatuan antar sesama nelayan tetap terjaga dengan prinsip ?3-S?,yaitu Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi (saling menyegani, salingmenasehati, dan saling menghargai). Dengan menyaksikan festival ini,para pengujung dapat mengetahui tentang kebudayaan masyarakat Bugis diSulawesi Selatan, khususnya Bugis Wajo.

Lokasi


Danau Tempe terletak di Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan.

Akses


Danau ini terletak 7 km dari Kota Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo.Untuk mencapai tempat ini, dari Kota Sengkang ke Sungai Walennae dapatditempuh melalui jalur darat dengan menggunakan mobil pete-pete(mikrolet). Dari Sungai Walennae menuju ke Danau Tempe ditempuh selama30 menit dengan menggunakan perahu motor atau katinting, denganbiaya sekitar Rp. 50.000,- hingga Rp. 75.000,- per-orang.


B. Sentra Kerajinan Sutra


Wajo adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang terkenalsebagai daerah penghasil kain sutra Bugis yang cukup potensial.Di daerah ini terdapat sekitar 4.982 orang perajin gedokandengan jumlah produksi sekitar 99.640 sarung per tahun dan perajin Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) berjumlah 227 orangdengan produksi sekitar 1.589.000 meter kain sutra pertahun.Khusus untuk pemintal benang sutra sebanyak 91 orang, sedangkan301 kepala keluarga bergerak dibidang penanaman murbei danpemeliharaan ulat sutra dengan produksi 4.250 kilogram benang pertahun.


Paraperajin sutra di daerah ini membutuhkan bahan baku benangsutra sekitar 200 ton atau sekitar 200.000 kilogram per tahun.Oleh karena bahan baku dari Wajo tidak mencukupi, maka paraperajin membeli bahan dari kabupaten tetangga seperti, Soppeng, Sidrap,Enrekang, dan bahkan diimpor dari Cina dan Thailand. Ada tiga bentukdan corak kain sutra yang diproduksi, yaitu: kain setengah jadi(seperti sarung, baju, dan selendang); kain berbentuk gulungan yangdapat dibeli permeter sesuai dengan kebutuhan; dan pakaian siappakai (seperti: baju, jas, kerudung, kipas, dompet, dan tempat peralatan rias wajah).


Kain-kainsutra tersebut tidak hanya dipasarkan di Sengkang dan Makassar,tetapi juga ke beberapa kota di Pulau Jawa, seperti Cirebon,Pekalongan, Solo dan Yogyakarta. Bahkan telah menjadiproduk ekspor dan menjadi incaran banyak desainer terkenal.Harganya pun bervariasi, yakni ditentukan oleh motif dan kualitaskain. Untuk bahan sutra dengan motif paye untuk ukuran satu setelpakaian wanita harganya berkisar antara Rp. 600.000,00 - Rp.700.000,00, sedangkan untuk motif yang bergaris harganya berkisarantara Rp. 450.000,00 - Rp. 500.000,00 per setel. Jika kain sutra itutanpa motif apa pun alias polos, harganya berkisar antara Rp.300.000,00 - Rp. 350.000,00 per setel.

Keistimewaan


Sentrakerajinan sutra di Wajo menyediakan berbagai macam motif kain sutra dan berkualitas tinggi. Motif kain sutra produksi daerah iniada dua macam, yaitu motif tradisional dan non-tradisional. Motif tradisional atau yang lebih dikenal dengan motif Bugis ini terdiri darimotif sobbi, balorinni, baliare, cobo, sertamotif yang menyerupai ukiran-ukiran Toraja. Sedangkan motifnon-tradisional, ada yang berbentuk batik, bergaris-garis danpayet.


Untukmemperoleh kain sutra yang berkualitas tinggi, benang lokal danimpor tersebut dipadukan menjadi satu dan diolah dalam beberapa tahap.Pertama, kedua macam benang tersebut dimasak dengansabun dan soda sekitar 1 jam dalam suhu 90 derajat. Tahapselanjutnya, kain tersebut dijemur selama 3 jam dengan suhu 50 derajat. Setelah itu, benang tersebut siap dipasang di mesin tenun dandiolah menjadi kain. Satu kilogram benang lusi dapat menghasilkan sekitar 40 meter kain, dan satu kilogram pakan dapat menghasilkan 12 meter kain. Uniknya, semua proses penenun dilakukan di kolong-kolong rumah mereka.

Lokasi


Sentraproduksi kain sutra di Kabupaten Wajo tersebar di beberapa kecamatan,seperti di Kecamatan Tempe, Tana Sitolo, Sabbang Paru, Pamana, danSaijoangin.

Akses


KabupatenWajo terletak sekitar 242 kilometer di sebelah timur laut KotaMakassar. Perjalanan dari Kota Makassar menuju ke lokasi dapatditempuh selama kurang lebih 5 - 6 jam dengan menggunakan kendaraanpribadi maupun angkutan umum antar kota.


Pemerintahan


SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN WAJO

Alamat: JL. Rusa No. 17 Sengkang

SESUAI PERDA NO. 5 TAHUN 2008


Untuk pelaksanaan tugas dan fungsinya, susunan dan struktur organisasi Sekretariat Daerah Kabupaten Wajo terdiri dari :


1. Sekretaris Daerah

2. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat:

1. Bagian Administrasi Pemerintahan Umum

2. Bagian Administrasi Kesejahteraan Rakyat

3. Bagian Administrasi Kemasyarakatan

4. Bagian Administrasi Kerjasama Antar Daerah

3. Asisten Perekonomian dan Pembangunan:

1. Bagian Administrasi Pengembangan Potensi Daerah

2. Bagian Administrasi Pembangunan

3. Bagian Administrasi Sumber Daya Alam

4. Bagian Administrasi Perekonomian

4. Asisten Administrasi Umum :

1. Bagian Hukum dan Perundang-undangan

2. Bagian Organisasi dan Tata Laksana

3. Bagian Umum

4. Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol


SEKRETARIAT DPRD KABUPATEN WAJO

Alamat:JL. Rusa No. 17 Sengkang

SESUAI PERDA NO. 5 TAHUN 2008


Untuk pelaksanaan tugas dan fungsinya, susunan dan struktur organisasi Sekretariat DPRD Kabupaten Wajo terdiri dari :


1. Sekretaris DPRD

2. Bagian Umum

3. Bagian Keuangan

4. Bagian Perundang-udangan

5. Bagian Risalah dan Persidangan


DAFTAR NAMA DINAS

DI LINGKUP PEMERINTAH KABUPATEN WAJO

SESUAI PERDA NO. 6 TAHUN 2008


NO.


NAMA DINAS


ALAMAT


1.Dinas Pendidikan JL. Jend. Ahmad Yani No. 27 Sengkang


2.Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata JL. Jend. Ahmad Yani No. 37 Sengkang


3.Dinas Kesehatan JL. Jend. Ahmad Yani No. 31 Sengkang


4.Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi JL. Bau Baharuddin No. 11 Sengkang


5.Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika JL. Sawerigading No. ... Sengkang


6.Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil JL. Bau Mahmud No.


7.Dinas Pekerjaan Umum JL. A. Pawellangi KM 8 Ujunge Sengkang


8.Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah, Perindustrian dan Perdagangan JL. Bau Baharuddin No. 4 Sengkang


9.Dinas Pertanian dan Peternakan JL. Lamaddukelleng No. 1 Sengkang


10.Dinas Kehutanan dan Perkebunan JL. Veteran No. 33 Sengkang


11.Dinas Kelautan dan Perikanan JL. Budi Utomo No. 9 Sengkang


12.Dinas Tata Ruang, Kebersihan, dan Pasar JL. Lamaddukelleng No. 1 Sengkang


13.Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah JL. Rusa No. 17 Sengkang


14.Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Energi dan Sumber Daya Mineral JL. Bau Baharuddin No. 86 Sengkang


DAFTAR NAMA LEMBAGA TEKNIS DI LINGKUP PEMERINTAH KABUPATEN WAJO SESUAI PERDA NO. 7 TAHUN 2008


NO.


NAMA LEMBAGA TEKNIS


ALAMAT


1.Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah JL. Lontar No. 1 Sengkang


2.Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah JL. Kejaksaan No. 5B Sengkang


3.Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa JL. Veteran No. 35 Sengkang


4.Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian JL. Lamaddukelleng No. 1 Sengkang


5.Badan Lingkungan Hidup Daerah JL. Kejaksaan No. ... Sengkang


6.Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat JL. Lontar No. 2B Sengkang


7.Badan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera JL. Beringin No. 5 Sengkang


8.Inspektorat Daerah JL. Kejaksaan No. 3 Sengkang


9.Rumah Sakit Umum Daerah JL. Kartika Chandra Kirana No. 9 Sengkang


10.Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah JL. Rusa No. 17 Sengkang


11.Satuan Polisi Pamong Praja JL. Rusa No. 17 Sengkang


12.Kantor Pelayanan Terpadu JL. Rusa No. 17 Sengkang


13.Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak JL. Rusa No. 17 Sengkang (wajokab.go.id)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar